LEGENDA TEBU UNGGUL ANDALAN HINDIA BELANDA (POJ 2878) YANG MASIH MENJADI ANDALAN DI KERINCI (POJ 2878 AGRIBUN KERINCI)



Legenda pergulaan di Indonesia bermula dari serangan penyakit sereh di perkebunan gula di Jawa serta persaingan persaingan gula tebu dengan gula dari bit gula. Serangan penyakit sereh di Jawa ini dikarenakan varietas yang ditanam pada waktu itu, Cirebon Hitam, peka terhadap penyakit ini.

Serangan penyakit sereh serta persaingan gula tebu dengan bit gula memicu munculnya penelitian serta segala usaha lain. Untuk mengembalikan kejayaan gula tebu baik dengan pendirian balai penelitian tebu maupun usaha pemuliaan tanaman tebu hingga pada akhirnya Soltwedel pada tahun 1885 menemukan bahwa perbanyakan tanaman tebu dapat dilakukan melalui biji. Sejak saat itulah kemajuan pemuliaan tebu terjadi, termasuk upaya  merakit varietas-varietas unggul melalui persilangan dengan tujuan saat itu untuk mengatasi penyakit sereh. Melalui persilangan, berhasil merakit varietas POJ 2878 pada tahun 1923.

Lahirnya varietas POJ 2878 tercatat dalam sejarah pergulaan sebagai hasil yang luar biasa dari Balai Penelitian Perusaan Perkebunan Gula. Hal ini sangatlah beralasan, karena dengan pengembangan POJ 2878, produksi gula meningkat secara drastis sehingga bukan masalah penyakit sereh saja yang dapat diatasi saat itu, melainkan juga masalah persaingan gula tebu dengan gula bit.

 Sedangkan terkait pelepasan varietas yang telah lama berkembang di Jambi terdapat Informasi yang diperoleh dari narasumber (Bapak Wagiman, mantan Wakil Mandor Perkebunan Teh, usia 92 tahun) yang menyebutkan bahwa tebu lokal Kerinci dibawa oleh tenaga kontrak dari Jawa yang dipekerjakan sebagai buruh perkebunan teh pada tahun 1929. Ada 6 jenis tebu yang dibawa oleh pekerja perkebunan teh ke Kerinci, yaitu jenis kuning (tebu bambu), coklat, putih/kapur, hitam, loreng dan mangli. Awalnya keenam jenis tersebut hanya ditanam sebagai konsumsi dipekarangan–pekarangan rumah. Namun pada tahun 1949,  ketika pekerja sudah mempunyai lahan yang bisa dikerjakan, mereka mulai melakukan budidaya tebu.

 Dari keenam jenis yang ada, ternyata hanya jenis kuning yang diminati oleh petani dan berkembang luas. Jenis lainnya ternyata tidak tahan hama/penyakit dan berbunga cepat sehingga produktivitas gula dan rendemen yang dihasilkan sedikit. Pada awal tahun 2000, petani melakukan introduksi jenis varietas unggul dari Palembang (varietas PSBM). Namun keragaan dari varietas unggul ini Nampaknya tidak sesuai harapan. Walaupun produktivitas tebu dan rendemen varietas unggul tersebut cukup tinggi tapi mereka memiliki sifat yang tidak disukai petani, seperti sulit diklentek, anakan banyak tapi kecil dan berbunga.

 Hasil penyandraan tim Balitbangtan terhadap karakter morfologi dan agronomi kultivar kuning menunjukkan bahwa varietas ini menyerupai varietas POJ 2878 yang telah dilepas oleh pemerintah pada zaman Belanda. Kajian literature juga menunjukkan bahwa varietas POJ 2878 ternyata sesuai untuk dibudidayakan di dataran tinggi di Colombia dan Puerto Rico  (Eka Sugiyarta, Komunikasi pribadi dalam P3GI, 2016). Karena varietas POJ 2878 telah dibudidayakan sejak tahun 1949 dan tidak pernah dilakukan pemurnian, maka ada kemungkinan telah terjadi perubahan sifat akibat mutasi gen. Untuk memastikan perubahan tersebut dilakukan analisa DNA menngunakan metode SSR pada 3 lokasi pengembangan lama (Desa Sungai Asam, Desa Giri Mulyo dan Desa Kampung Baru) dibandingkan dengan control POJ 2878.

 Pelepasan varietas unggul lokal tebu dataran tinggi Kerinci diharapkan dapat mendukung pengembangan tebu dataran tinggi tidak hanya di Jambi namun juga di Propinsi lain yang memiliki iklim dan agroekologi serupa (Sumbar dan Aceh). Fajar Hufail, SP., MM. PBT Ahli Muda Ditjen Perkebunan

Sumber :

  1. Tim Pelepasan Varietas Tebu Kerinci. 2016. Usulan Pelepasan Klon Unggul Lokal Tebu Dataran Tinggi Kerinci untuk Mendukung Swasembada Gula
  2. Widyasari, W.B. 2016. Pemuliaan Tanaman Tebu : Arah, Strategi dan Permasalahannya. P3GI